• 01 Apr 2009 /  Puisi

    Perlahan-lahan kamar ini jadi gudang
    Debu-debu menempel tanpa malu
    Lalu kau yang makin malas
    Teronggok di atas kasur sambil mendengkur

    Perlahan-lahan kamar ini jadi gudang
    Nyamuk, semut dan mimpi berbaur padu

    Aku terkulai…
    Betapa hari semakin cepat malam
    Dan malam begitu cepat pagi
    Sesederhana itukah hidup ini?

    Perlahan-lahan kamar ini jadi gudang
    Lalu jadi kuburan untuk tanganku yang lelah mencatat jejak

    Ah! Hatiku tak mau memberi
    Mampus kau dikoyak-koyak sepi.*

    _________________________
    *Dari puisi Sia-sia, Chairil Anwar

    Tags: ,

  • 01 Apr 2009 /  Cerita

    Kau tidak pernah tahu. Aku belum bisa mengatakannya sekarang; di awal surat ini. tapi akan aku katakan di ujung tulisan ini. (Eits, kamu tidak boleh melihatnya. Baca saja urut seperti aku menulisnya. Oke? Mari kita lanjutkan!)

    Ini surat cintaku yang pertama. Pertama menulis, pertama pula untukmu.

    Kita pernah saling mengenal. Kau tahu itu.

    Persinggungan panas dan air laut, adalah asal muasal uap menjadi hujan. Hujan yang deras berawal dari air yang terlalu banyak menanjak, menjadi awan yang berat. Awan tak kuat menahan uap air, maka jatuhlah hujan. Itu yang terjadi pada kita. Pertemuan kita menjadi awal untuk perpisahan yang mungkin akan lama. Perpisahan awan dengan uap yang dikandungnya.

    Aku ingat saat kita berkenalan. Pandanganmu aneh. Aku mengenal jenis pandangan itu. Kau tidak pernah bisa menipu mataku. Aku terlalu paham bahasa mata. Apa lagi mata yang ganjil seperti matamu. Dan kau membuktikannnya sehari setelah jabat tangan yang kau anggap berkesan itu. Kau mengagumiku, katamu. Aku melambung, hanya sejenak tapi. Aku tak pernah mau menikmatinya. Aku tak bisa menikmati rasa melambung yang kau ciptakan.

    Dari situlah, cerita berat harus aku jalani. Menjadi kekasihmu adalah hal yang berat bagiku.

    Barangkali kau menganggap aku… akh, berat sekali aku mengungkapanya. Baiklah. Kau harus tahu sifatku; aku lelaki kacangan, terlalu mudah jatuh cinta, aku terlalu lemah untuk bertindak. Kalau aku tak salah rasa, aku yakin kau sangat mencintaiku. Benar, kan? Lagi-lagi kau tidak bisa berbohong dengan tatapan matamu, ditambah senyummu. Akuilah kau sangat mencintaiku.

    Lalu kita berpacaran. Sebuah hubungan aneh yang tiba-tiba. Kau mengucapkan terimakasih karena telah aku pilih, dank au mengucapkan cinta juga.

    Tapi jangan marah kalau aku sebenarnya berat untuk menjalaninya. Ini kesalahanku karena tak tegas dahulu; sesungguhnya aku tidak pernah mencintaimu. (tolong, tolong jangan salahkan aku. Bukannya aku tak tahu diri, aku memang tidak bersalah. Begitu juga kamu. Keadaan saja yang membuat semuanya seprti ini. biarlah… waktu akan menjawabnya)

    Kau tentu tidak pernah tahu. Biarlah aku katakan sekarang. Yang mengucapkan cinta padamu dulu bukan aku. Tapi temanku. Maafkan aku.

    NB:

    Malam ini aku berangkat menuju laut. Tolong, jangan cari aku. Jangan rindukan aku. Aku tak pernah mencintaimu.

    Yogyakarta, 2008.

    Tags: ,

  • 26 Mar 2009 /  Puisi

    telah ribuan tahun aku mencari
    menelusuri sembari memburu lewat reinkarnasi
    sejak kakek buyutku berkalikali menjelma puisi
    menjadi laut, batu, pohon
    juga kelelawar
    betapa rindu aku pada perjamuan suci kita

    kucari kau sembari menulis jutaan kitab suci

    aku menjelma batu, kau menjelma ilalang
    aku jadi rimba, kau meraung jadi harimau
    aku berubah laut, kau merupa pasir
    aku menjelma kabut, kau membumbung bukit
    aku tumbuh berpohon, kau menitis awan
    betapa serasi hidup kita
    yang tak pernah berdekatan,
    meski sangat mungkin untuk berpeluk

    ooh…
    kau yang aku buru beriburibu tahun
    pada bangkai malam
    juga panas yang merayap di kulit berkeringatku
    ratusan bahkan ribuan kali reinkarnasi
    ku buru kamu
    meski pertemuan kadang tak berani aku resapi
    aku lahir di tigris
    tumbuh di andalusia
    mengalir di jawa
    menetas di bali
    bergulung di antartika
    menggigil di eropa
    mampus aku di gaza
    bangkit lagi aku di kutub utara

    aku telah melebur menjadi api, memanjat gunung menjadi angin
    menapaki sungai dengan menjelma air

    oh, tuhan… betapa rindu ini
    rindu semesta jauh sebelum masehi
    semanjak kita berjanji untuk berpisah setelah aku makan huldi

    Yogyakarta, 23 Maret 2009
    1:38 AM

    Tags: , ,

  • 18 Mar 2009 /  Puisi
    http://1.bp.blogspot.com/_1m_vKKazA2Y/Sa9aueFKPMI/AAAAAAAADS8/sryY1-WO8ko/s400/sepi.jpg
    di sini sepi sekali
    tulang rindu tak mampu digigit anjing kelabu

    di sini sepi sekali
    langit mencekik mendung tanpa mau memeras hujan

    di sini sepi sekali

    Yogyakarta 19 September 2007
    Foto:http://1.bp.blogspot.com

    Tags: ,

  • 15 Feb 2009 /  Puisi

    musik-musik hujan menghentak

    memukul dan melompat-lompat di atap rumah

    ritme Rock ‘n Rool bercampur Metal dan Punk

    : sebuah irama yang memabukkan

    menggeliat dalam lamunan yang purba

    ‘pemilik jemuran berlarian mencaci hujan’

    Cuaca,

    :Aku catat kau dalam diam dengan segelak sajak

    Lalu rindu dendamku mengalir deras tak tahu bermuara
    Yogyakarta, 15 Februari 2009

    Tags: , ,

  • 15 Feb 2009 /  Puisi

    Hujan inikah yang membuatku menggigil berselimut?

    atau sepi yang merambat di setiap pori tubuhku yang merinding

    membuat aku mengurung diri dalam pertapaan bisu?

    Di luar, langit yang kemarin cerah

    kini masih saja muram

    “gerimis mempercepat kelam”*

    membuai rinduku, membiarkan ia tergantung di dekat lemari pakaian

    Hujan inikah yang membuatku senyap?

    menelikung sendiri dalam lamunan untuk pikiranku yang kerap buntu

    Hujan bulan Februari

    :bercerita pada diri “Aku manusia, rindu rupa rindu rasa”**

    Jogjakarta, 15 Februari 2009

    _______________________________
    *dari sajak Chairil Anwar: Senja di Pelabuhan Kecil
    **dari sajak Amir Hamzah: Padamu Jua
    Gambar: http://sapadunia.files.wordpress.com/2008/10/rain.jpg



    Tags: , , , ,

  • 13 Feb 2009 /  Profile

    Menengok Semangat Kaum Muda dalam Novel Karya Anak Muda
    Judul Buku : Razonca “Rumah Merah Kita”
    Penulis : Irwan Bajang
    Tebal : x+192 hal.
    Penerbit : Copernican (Kelompok Jagad Media) Yogyakarta
    Cetakan pertama : 2008
    ISBN : 979257982-6
    Harga :(Kayaknya 20Ribuan Gitu Deh)

    Pemuda Pemberani itu adalah Razonca, yang datang merantau untuk menuntut ilmu ke Koblem; Ibukota Sailon, negara kelahirannya. Begitulah Irwan Bajang, seorang penulis muda asal pulau Lombok ini menggambarkan seorang tokoh dalam bukunya Razonca “Rumah Merah Kita”.

    Cerita diwali dengan keberangkatan Zonca ke ibukota untuk menuntut
    ilmu, melanjutkan cita-cita ayahnya kelak, menjadi peternak sapi di pulau Jagze. Tapi, kehidupan memang misterius dan susah ditebak. Cita-cita sering kali tak seindah apa yang dibayangkan. Keadaan membenturkan Zonca pada realitas negaranya yang kacau akibat pemerintahan diktator dan keterpurukan akibat negara yang salah urus. Hal ini juga diperparah dengan penananaman modal asing yang memberi ruang pemiskinan yang menganga bagi negara Sailon. Zonca terbentur pada realita itu. Semangat mudanya memanggil ia untuk berjuang membela negaranya. Ia bergabung dengan Rumah Merah, sebuah organisasi pemuda, di mana kelak ia bertemu pemuda-pemuda pemberani, sahabatnya Verzaya dan Ariaseni.

    Ketika keadaan semakin kacau akibat kecemburuan sosial pulau-pulau yang terdiskriminasi oleh sentralisai pembangunan di ibukota, maka tiga sekawan Zonca, Aria dan Verzaya tidak mau tinggal diam, Verzaya pulang ke Balehoem, Zonca kembali ke Jagze da Aria menetap di Koblem. Mereka sepakat untuk membagi diri, menyusup ke lumbung-lumbung pemberontak untuk meredamnya dari dalam. Menyamar dan menyadarkan masyarakatnya tentang penyebab sejati kekacauan yang ada; kapitalisme global.

    Namun apa jadinya jika dalam perjuangan muncul konflik internal dari kalangan pengambil keputusan Rumah Merah? Ketidak percayaan, ketidak jelasan informasi dan ego darah muda membawa cerita lain dari cita-cita besar yang mereka impikan. Semua kandas di tengah jalan. Perang saudara tidak bisa dielakkan lagi. Sailon diambang kehancuran.

    Membaca novel ini, kita tidak hanya disuguhkan sebuah drama kehidupan anak muda, tapi juga sebuah cerita dan penguakan kebohongan kapitalis terhadap negara dunia ketiga, yang terjadi hampir di seluruh belahan dunia belakangan ini.

    Irwan Bajang, meramu sebuah cerita yang apik, mengalir lancar dengan format fiksi fantasi sem-ilmiah, sebuah metode yang barang kali baru dimulai oleh ia sendiri dalam dunia sastra fiksi fantasi. Penulis menghadirkan sebuah gambaran negara makmur yang terus-terusan dikeruk kekayaannya oleh negara penjajah, pun ketika negara itu telah merdeka. Kita seperti diajak melihat cerminan Indonesia, yang dihadirkan lewat sebuah negara rekaan; Sailon, begitulah nama negara dalam novel ini. Adanya petunjuk peta pada akhir buku, membuat kita bisa mengamati letak geografis daerah yang ia ceritakan. Terlebih juga disajikan tiga animasi untuk tiga karakter yang paling dominan dalam novel tersebut, membuat kita lebih gampang memahami karakter tokohnya.

    Tidak ada gading yang tak retak, novel ini seperti terlihat terburu-buru untuk menghadirkan konflik dan klimaks, menjelang lima puluhan lembar terakhir ceritanya. Namun bagi pembaca yang tidak suka cerita yang bertele-tele, kecepatan alur tersebut, malah menghadirkan sensasi yang menegangkan.

    Terlepas dari beberapa kekurangannya sebagai seorang penulis muda dan pemula, terbitnya novel ini seolah menjadi sebuah pembuka ruang diskusi untuk kita memaknai kembali kemerdekaan indonesai, menerjemahkan mimpi-mimpi pendiri bangsa untuk menjaga negeranya. Semangat kaum muda untuk membela bangsanya, dapat kita teladani dari novel ini. lahirnya novel yang tergolong serius, dari tangan penulis muda Indonesia berumur dua puluh satu tahun ini setidaknya akan membuktikan bahwa penulis lokal mampu menghasilkan sebuah novel yang menggugah dan inspiratif yang selama ini sepertinya didominasi oleh penulis-penulis asing. []

    Tags: , , , ,